Sialan!!

Kau!!
Slalu memintaku tuk mengumpatmu
Sialan
Kau!!

Ingin itu bukan kau!!
Tapi sepi
Dan kau…
Sialan

Kau mengacak acaknya
Sialan kau!!

Sepelan apapun, nyatanya kau tetap mengusik
Enyahlah
Jauh
Tak usah kembali

Sialan
Kau!!

“Semarang,
3 Februari 2015”

Mengapa

Ku merasakannya kasih,
Sakit !!
Begitu mengiris setiap jengkal hati

Airmata ku, tak bisa ku hentikan
Mengapa harus sesakit ini?
Kenapa harus kau torehkan kata yg menyayat itu

Kau tampak dalam sisi lain yg tak ku kenali
Kau tampak berbeda
Tak sadarkah itu?
Mengapa kau membuatku menangis lebih sering?
Bagaimana kau bisa membuatku slalu menyalahkan diriku sendiri?

Bukankah kau tak bisa bersikap kasar dengan perempuan
Bukankah kau slalu menjaga ucapanmu dengannya?
Tapi kenapa dengan ku tidak demikian?
Apakah aku tak perempuan?
Mengapa hal yg kau bilang cinta, bisa melahirkan semua itu
Mengapa kau tak bisa berlaku lembut, seperti kau memperlakukan perempuan perempuan itu
Siapa sebenarnya perempuan mu?
Aku?
Atau mereka?

Tak tau kah,
Aku berubah begitu cengeng kasih
Tak ada tempat lain untuk ku bersandar bukan?
Aku yg slalu salah dimata mu
Aku yg slalu tak pernah membahagia kan mu
Dan aku yg slalu membuatmu marah

Kau terlalu buruk menilaiku kasih
Kata kata mu terlalu buruk untuk ku
Begitu menusuk

Seperti koin
Aku rindu dengan manja mu
Rindu dengan kata lembut yang slalu kau tuai dengan desahan ditelingaku
Rindu belai bibirmu

Semarang, 29 November 2014

Satu Darah

Malam,
Kau membuatku menganga
Kau membuat mataku sadar, bahwa kau tak sebrengsek seperti biasa nya

Hanya dengan ganggaman singkat dari ruas jemari
Hanya dengan gulungan tautan tubuh yg menggapai malam
Hanya dengan itu!
Hanya dg itu mimpi tentang bahagia itu seakan nyata dipelupuk mata
Dengan nya, dengan tetesan darah yg sama

Cermin?
Hal yg sangat langka bukan?
Tak ada perseteruan
Tak ada perdebatan
Tak ada tatapan tajam
Semua nya lembut, dan… Aku sangat mencintainya
Jauh dari bayang bayang yg lalu
Semua seakan indah

Semarang, 31 Desember 2014

Salah!

Langit,
Senandung hati ini menyiksa
Langit,
Isi kepala ku ini tak waras
Membuatnya kadaluarsa
Hingga tanpa batas
Langit
Salah… Semua nya salah
Aku lahirpun, itu salah
Langit,
Tak ada kah jawaban lain dari mu selain rintikan pedih pada malam?

Ingin ku tembus rintikanmu dan berjalan sesukaku,
Ingin juga ku mengutukmu, untuk tak menangis begitu saja membanjiri sekelilingku
Kau terlalu cengeng langit!

Dan aku?
Jelas!
Aku pun terlalu mellow

Aku membutuhkan marahari untukku melihat dalam kegelapan
Aku membutuhkan matahati untuk ku menghangatkan tubuh
Aku membutuhkan matahari untuk tak tertidur,

Namun?
Slalu saja ada gelap
Hingga ku kehabiasan napas dalam ruangan sempit,
Ini-begitu-menyakitkan!

Semarang, 20 Desember 2014

Bertanya Pada Siapa

Aku berkata pada mimpi, tentang kesunyian dan kesedihan
Aku berkata pada batu, tentang hati yg terkikis kerasnya tekanan
Atas nama keabadian, nyawaku melayang jatuh diatas karang
Menderu menghapus lentera yg meredup

Sepi
Hanya dengan desiran angin
Membelai lembut hingga menembus batin
Pergi
Hati ini berdenyut dengan irama yg menyesakkan
Tersirat kata yg membuat semua nya berputar putar
Akan kah itu sebuah jawaban?
Ku bertanya pada siapa?
Otak yg tak berfungsi?
Hati yg rusak?
Atau mata yg rapuh?

Langit Ingin rasanya ku memintamu tuk menenggelamkanku didalam mu
Tertidur pulas tanpa memikirkan   apapun
Tanpa khawatir dengan awan yg menghujani
Tanpa takut dengan angin yg bisa saja menerbangkan apapun yg ku punya

Itu punya ku
Namun entah mengapa angin merampas nya

Semarang , 11 Januari 2015